Bimbingan Konseling dalam Perspektif Al-Qur’an dan Al-Hadits

  • Meimunah S. Moenada UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Abstract

Makalah ini bertujuan untuk menggambarkan terminologi bimbingan konseling yang terdapat dalam al-Qur`an dan al-Hadis. Manfaatnya mengarah kepada upaya pemberian bantuan yang diberikan seorang pembimbing terhadap individu agar dapat berkembang potensinya secara optimal. Kegiatan bimbingan konseling pernah diterapkan pada masa Umar ibn Khattab sampai masa Usman ibn Affan. Bimbingan konseling pada masa ini dinamakan dengan hisbah atau ihtisab sedang konselornya dinamakan muhtasib dan klien dinamakan muhtasab alaih. Hal ini bila dirujuk ke al-Qur`an, maka kata hisbah berasal dari bentuk kata (). Kata ini dalam berbagai bentuknya terulang sebanyak 98 kali, dan semuanya bermakna perhitungan atau saatnya untuk introspeksi. Terminologi yang dapat dilihat dalam al-Qur’an dan al-Hadits tentang bimbingan konseling adalah bantuan muhtasib hendaklah bersifat membantu klien dengan halus supaya melakukan sesuatu karena pilihannya sendiri secara terus menerus untuk memecahkan masalah yang dihadapinya dan mampu menghadapi krisis-krisis yang dialami dalam kehidupannya (). Berupa ucapan yang bermanfaat yang bertujuan menghindarkan orang yang dinasihati dari bencana atau keburukan dan dilakukan dengan ikhlas (). Ia merupakan pertolongan yang berimplikasi pada ketenangan dan ketentraman, dan sasarannya baik yang didzalimi maupun yang terdzalimi (). Ia merupakan bimbingan yang lurus () yang petunjuk yang benar dan baik atau the best choice (). Dan bertujuan untuk mendapatkan hidayah Allah ().

Published
2015-11-02
How to Cite
MOENADA, Meimunah S.. Bimbingan Konseling dalam Perspektif Al-Qur’an dan Al-Hadits. Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan, [S.l.], v. 8, n. 1, p. 57-72, nov. 2015. ISSN 2598-2168. Available at: <http://journal.uir.ac.id/index.php/alhikmah/article/view/1540>. Date accessed: 26 aug. 2019.