SISTEM AGRIBISNIS JAMUR TIRAM DI DESA BALAI MAKAM KECAMATAN BATHIN SOLAPAN KABUPATEN BENGKALIS PROVINSI RIAU STUDI KASUS: MITRA MUSHROOM
Keywords:
Sistem Agribisnis, Jamur Tiram, Balai MakamAbstract
Budidaya jamur dinilai prospektif karena tidak memerlukan lahan luas, dapat mendukung penganekaragaman pangan dan berpotensi meningkatkan pendapatan masyarakat. Meskipun demikian, produksi jamur nasional maupun Provinsi Riau menunjukkan fluktuasi, bahkan cenderung menurun dalam beberapa tahun terakhir. Produksi jamur tercatat rendah akibat minimnya pelaporan dan pembinaan di Kabupaten Bengkalis. Penelitian ini bertujuan menganalisis karakteristik dan profil agribisnis jamur, struktur sistem penyediaan serta penggunaan sarana produksi jamur tiram, subsistem usahatani dan agroindustri, serta subsistem pemasaran dan penunjang dalam rantai agribisnis jamur. Penelitian dilakukan di Desa Balai Makam, Kecamatan Bathin Solapan, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani jamur tiram berada pada usia produktif dengan rata-rata 34 tahun dan tingkat pendidikan SMA. Usaha jamur tiram Mitra Mushroom berdiri sejak 2014 dengan modal awal sekitar Rp12 juta dan melibatkan lima tenaga kerja. Sistem penyediaan sarana produksi telah memenuhi prinsip ketepatan waktu, tempat, jumlah, jenis, mutu, dan harga. Total biaya usahatani mencapai Rp3.242.834 per proses produksi, dengan pendapatan kotor Rp15.750.000/m²/produksi dan pendapatan bersih Rp12.507.166 serta efisiensi 1,25. Pada agroindustri jamur krispi, total biaya produksi sebesar Rp25.174.178 menghasilkan pendapatan kotor Rp39.149.040 dan pendapatan bersih Rp13.974.178 per proses produksi, dengan efisiensi 1,55 dan nilai tambah Rp50.906,48/kg. Sistem pemasaran terdiri atas dua saluran. Saluran pertama dari pengusaha ke pengecer dengan harga Rp35.000/kg, share margin 100%, dan efisiensi 0,57%; serta saluran kedua dari pengecer ke konsumen dengan harga Rp38.000/kg, share margin 92,10%, dan efisiensi 1,55. Pengusaha jamur krispi menjalankan fungsi pertukaran, penyimpanan, pengangkutan, pengolahan, dan informasi pasar. Jasa penunjang meliputi infrastruktur jalan yang memadai, kemasan produk yang menarik, dan kegiatan penyuluhan.








