PERAN SABAR DALAM PSIKOTERAPI ISLAM UNTUK MENGATASI HOMESICKNESS PADA SANTRI BARU
DOI:
https://doi.org/10.25299/annafs.2026.vol20(1).28474Keywords:
Psikoterapi, Sabar, HomesicknessAbstract
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan (1) manifestasi homesickness pada santri baru, (2) cara santri memaknai dan mempraktikkan sabar sebagai regulasi emosi yang aktif, serta (3) peran yang dirasakan dari wudhu dan olah napas sebagai dua praktik pendukung yang saling melengkapi dalam mengelola homesickness. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan fokus eksploratif terhadap lima santri tahun pertama di Pondok Tahfizd Putri Bani Ibrahim yang dipilih secara purposive. Penelitian ini tidak dirancang sebagai eksperimen dan tidak menguji efektivitas secara kausal. Data diperoleh melalui observasi partisipatif, lembar refleksi tertulis, psikoedukasi singkat mengenai sabar, wudhu, dan olah napas, praktik mandiri selama satu minggu, serta kuesioner tindak lanjut yang memuat pertanyaan terbuka dan skala respons 1–5. Narasi tertulis dianalisis secara tematik melalui pembacaan berulang, pemberian kode awal, pengelompokan kategori, penyusunan tema, dan perbandingan antar sumber data; skor digunakan sebagai data deskriptif pendukung. Hasil analisis menghasilkan tiga tema, yaitu instabilitas emosi sebagai manifestasi homesickness, sabar sebagai jeda aktif untuk mengendalikan respons emosional, serta fungsi wudhu dan olah napas yang berbeda namun saling melengkapi. Wudhu memberi ruang jeda ritual-spiritual, sedangkan olah napas diarahkan untuk menurunkan ketegangan fisiologis. Subjek merasakan emosi lebih terkendali setelah satu minggu, tetapi kontribusi masing-masing praktik belum dapat dipisahkan karena keduanya diberikan dalam satu rangkaian. Temuan ini menunjukkan potensi praktis pendampingan psiko-spiritual berbasis sabar dan memerlukan pengujian lanjutan dengan data kualitatif yang lebih mendalam serta waktu pengamatan yang lebih panjang.





